Feeds:
Pos
Komentar

Buku ini menarik karena diketengahkan ke ruang publik di saat situasi krisis, tidak hanya ekonomi, melainkan juga kepemimpinan. Dalam buku ini─dengan menggunakan bermacam-macam sumber─terungkap bagaimana seorang pejuang, dalam hal ini Sukarno harus berhadapan dengan situasi yang rumit, tetapi harus segera menentukan posisinya dengan segala risiko yang menyertai penentuan posisi yang harus dilakukan “tanpa cukup waktu” untuk bermenung sebelum penentuan sikap itu. Informasi yang kita peroleh dari buku ini, tampak cukup menyeluruh, karena tidak hanya sikap politik dan kepemimpinan Sukarno, melainkan juga pelbagai kebijakan dan tindakan “kasar” Jepang dengan segala risikonya, termasuk penderitaan romusa dan jugun ianfu yang memedihkan itu!
Dengan membaca buku ini, kita dapat memperoleh informasi tentang pelbagai dimensi tingkah laku Sukarno sebagai pemimpin utama kita menuju ke kemerdekaan. Dalam buku ini, sebenarnya kita dapat menangkap betapa tidak mudahnya tampil menjadi pemimpin di tengah situasi yang demikian rumit. Seperti telah disinggung di atas, di tengah-tengah krisis itu, taruhan untuk menunjukkan kualitas kepemimpinan seseorang, justru diuji dengan tingkat kesulitan yang amat tinggi. Karena itu, tidak semua pemimpin dapat melewati ujian itu dengan berhasil. Sukarno justru berhasil!

Anhar Gonggong, Sejarawan


Salah satu isu pendidikan adalah masalah mutu. Tentu dari berbagai banyak faktor, guru sebagai pelaku dalam proses pendidikan dan pembelajaran menjadi determinan untuk menjadikan sebuah proses pendidikan yang bermutu sehingga menghasilakan sumber daya manusia yang bermutu. “Oleh karena itu, kami merasa peduli dan berkepentingan untuk meningkatkan mutu guru dan sekaligus juga menyiaapkan calon-calon guru yang bermutu,” ujar Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Sunaryo Kartadinata kepada Hendri F. Isaneni di Patere, sebutan untuk gedung Rektorat UPI.

 

Menurut Anda, bagaimana posisi pendidikan dalam pembangunan?

Jika selama ini kita menganggap pembangunan ekonomi akan berdampak kepada kemampuan sumber daya manusia. Posisi itu harus dibalik, bahwa dengan mengutamakan pengembangan sumber daya manusia diharapkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, karena mereka akan mampu melihat banyak dan memanfaatkan peluang yang ada dan juga sekaligus akan membangun bangsa secara demokratis. Hal itu disebabkan nalar mereka akan lebih baik.

 

Bagaimana dengan kualitas tenaga pendidiknya?

Sesungguhnya harus dilihat dari berbagai faktor karena medan atau kehidupan yang dihadapi para guru berkembang terus. Kalau kita mengatakan guru-guru jaman dahulu cukup bermutu. Apakah yang sekarang tidak bermutu? Saya pikir tidak, karena tuntutannya semakin luas. Berarti ini menuntut para guru untuk melihat persoalan-persoalan itu. Persoalan mutu tentu harus dikaitkan juga dengan standar-standar dan tuntutan kebutuhan yang ada. Karena itu, tentu sulit mengkomparasikan guru saat ini dengan guru masa lalu.

Saya pikir seorang guru perlu memiliki kemampuan lain, di samping kemampuan substansi pelajaran juga tidak kalah pentingnya kemampuan dalam kependidikan itu sendiri karena guru dihadapkan kepada manusia-manusia yang sedang dalam proses berkembang. Sedangkan perkembangan peserta didik adalah proses yang dinamis dan mempengaruhi keberhasilan belajar mereka. Ini harus dipahami oleh guru dengan baik. Ini salah satu sisi dari kebermutuan seorang guru. Di samping dia mampu menyiapkan dan mengelola bahan ajar kemudian menyampaikannya kepada siswa, tentunya ini harus di up date. Oleh karena itu, harapan saya para guru memiliki kemampuan dan kapasitas untuk meng-up date dirinya.

 

Caranya?

Meskipun kesejahteraan masih harus ditingkatkan, tetapi guru harus memiliki kesadaran profesional untuk mengembangkan diri. Kedepan, dukungan fasilitas kerja menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Saya melihat upaya-upaya pemerintah kearah itu sudah cukup banyak. Tetapi, dengan wilayah yang begitu luas, jumlah guru yang begitu banyak, sekolah dimana-mana, itu bukan hal kecil untuk dipikirkan.

 

Bagaimana dengan antusiasme masyarakat terhadap pendidikan guru?

Minat masyarakat terhadap pendidikan guru mengalami peningkatan. Namun yang terpenting,  perguruan tinggi yang membina pendidikan guru harus mampu membangun komitmen. Sehingga menyelesaikan pendidikannya, para calon guru memiliki komitmen yang kuat untuk mengabdi sebagai tenaga pengajar. Memang persoalan komitmen tidak ada jaminan. Contoh sertifikasi, menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen, jiwa dari setifikasi adalah mutu─walaupun banyak yang menerjemahkan dengan gaji. Asumsinya, lewat sertifikasi guru yang bermutu. Pertanyaannya apakah selesai sertifikasi pendidikan akan bermutu? Tidak ada jaminan untuk itu. Siapa yang akan menjamin itu. Jaminannya hanya kalau guru yang sudah sertifikasi tersebut berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Itu yang harus terjadi. Persoalannya kembali kepada komitmen si guru.

 

Bagaimana membangun komitmen ini?

Memang bukan pekerjaan sederhana yang harus digarap di negara ini. Saya pikir, salah satu faktor adalah aspek manajemen sekolah, manajemen pendidikan, bagaimana guru merasa berpartisipasi dalam mengambil keputusan di sekolah, bagaimana dia memiliki fasilitas kerja yang memadai untuk mendukung pekerjaannya. Hal-hal semacam itu saya kira akan menumbuhkan komitmen. Kalau misalnya suasana sekolahnya, fasilitas pendidikan yang terbatas, tentu sedikit-banyak akan memepengaruhi komitmen.

 

Publikasi Majalah FIGUR Edisi XXV/Mei 2008

 

 

Semua orang sadar, pendidikan memiliki posisi strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu untuk membangun bangsa kedepan. Siapakah aktor di balik penciptaan manusia bermutu itu? Dialah guru.

 

Ketika Indonesia masih dalam pencarian, nusantara ini dihuni oleh kerajaan-kerajaan. Setiap raja pasti memiliki seorang empu yang tugasnya membuat keris. Empu juga akan berfungsi sebagai guru tatkala mengajarkan kemampuannya kepada orang lain. Di situlah peran guru berlangsung. “Guru merupakan orang yang mengajarkan cara membuat peralatan atau teknologi,” ujar Muhamad Hisyam, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

 

Memasuki jaman Hindu-Budha dan Islam, yang dianggap guru adalah guru agama. Di dalam Islam, guru disebut dengan ulama. Tempat pendidikannya adalah pesantren atau Lembaga Pendidikan Asli. Sebelumnya disebut pondok (bahasa Arab funduq artinya penginapan). Dikatakan pondok karena orang yang menuntut ilmu itu menginap untuk tempo sementara, tidak menetap di situ. Dalam pondok itu terdapat guru, murid, dan proses belajar mengajar. Kemudian istilah “pondok” ditambah dengan “pesantren”, jadi “pondok pesantren”. Bahkan, belakangan hingga sekarang ini kata “pondok” hilang, tinggal “pesantren”.

 

Kedatangan bangsa Eropa membawa “sekolah” sebagai institusi pendidikan. Bangsa pertama yang menginjakan kaki di bumi nusantara adalah Portugis yang datang pada awal abad ke-16 atau tahun 1515. Mereka datang ke daerah-daerah di Asia dan Amerika Latin membawa misi penyebaran agama Katolik. Bersamaan dengan itu, mereka juga mencari rezeki. “Karena pendidikan penting, maka dibangunlah sekolah Katolik Seminari, terutama di Indonesia bagian timur. Sampai sekarang, pengaruh agama Katolik cukup kuat di sana. Yang tak tergoyahkan di Flores,” ujar Hisyam.

 

Lebih lanjut Hisyam menerangkan, antara Belanda dengan Portugis bersaing ketat, bukan hanya dalam ekonomi tetapi dalam bidang agama, karena agamanya beda. Begitu Belanda berhasil mengalahkan Portugis, semua pengaruh Portugis dihapus termasuk agamanya. Pengaruh Katolik di Ambon, Ternate dan sekitarnya sedikit demi sedikit terkikis habis. Hanya di Flores yang masih kuat karena Belanda tidak berhasil mengubah orang Katolik menjadi Protestan.

 

Misi orang Belanda sebenanya bukan menyebarkan agama. Tetapi, berdagang dan mencari keuntungan. Kegiatan ekonomi Belanda pun berkembang cukup pesat. Berdirilah perusahaan, kantor dagang, perkebunan, dan sebagainya. Karena orang Belanda sendiri tidak cukup untuk mengurusnya. Maka diperlukan penduduk pribumi untuk ikut mengelola administrasi perdagangan, pemerintahan, perkebunana, pabrik, dan sebagainya. “Untuk kepentingan itu, diperlukan sekolah yang tujuannya untuk membantu Belanda mengatur manajemen dan administrasi. Jadi, tujuannya bukan untuk mencerdaskan masyarakat pribumi,” jelas Hisyam.

 

Pada awalnya, sekolah yang dibangun tidak berbeda dengan Portugis. Belanda mendirikan sekolah agama protestan, gurunya pendeta. Dalam perjalanannya, ketika administrasi semakin kompleks, Belanda membutuhkan guru yang tidak ada kaitannya dengan agama. Maka didirikanlah sekolah untuk orang Belanda sendiri dan sekolah untuk orang pribumi. Pada awalnya, siapa saja boleh menjadi guru asal memiliki kemampuan mengajar. Namun, dalam perkembangannya, dibutuhkan seorang guru yang benar-benar “guru”. “Pertengahan abad ke-19 sekitar tahun 1860-an, didirikanlah sekolah guru yaitu Kweekschool. Sekolah ini berada di Purworejo, Bukittinggi, Bandung, dan di beberapa daerah lainnya. Anak-anak berusia 14 tahun ke atas di sekolahkan di situ. Tujuannya setelah lulus nanti dapat mengajar masyarakat pribumi. Sedangkan yang mengajar anak-anak eropa adalah guru-guru dari Belanda,” kata Hisyam.

 

Meskipun pada jaman kolonial terjadi diskriminasi pendidikan, namun Belanda tentap memberikan perhatian bagi pendidikan dan tenaga pendidiknya. Kweekschool merupakan bukti akan pentingnya seorang guru.

 

Guna menghasilkan guru-guru yang berdisiplin tinggi, maka sistem pendidikan yang dianut Kweekschool adalah berasrama. Di dalam asrama itu dididik disiplin sangat ketat. Sekolah guru hampir mirip dengan sekolah tentara. Pada jam delapan malam, tidak ada orang yang tidak berada di kamarnya. Jam lima pagi harus sudah bangun, olah raga, apel, kemudian masuk sekolah. Semuanya serba diatur dengan disiplin tinggi. Itulah sebabnya lulusan Kweekschoool sangat disiplin dalam mengajar.

 

Hisyam menyontohkan, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution adalah lulusan Kweekschool Dasar di Bukittinggi, melanjutkan ke Kweekschool Bandung. Lulus dari situ sama dengan lulus dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru tingkat menengah). Sambil sekolah Kweekschool, dia mengambil ujian sekolah lanjutan atas AMS (Algemene Middelbare School). Lalu mengambil sekolah tentara di Bandung. Meskipun lulusan Kweekschool, tetapi dia tidak menjadi garu. Namun, pelajaran kedisiplinan yang didapatkannya ketika sekolah di Kweekschool menjadi modal dalam menjalani pendidikan militer sehingga mengantarkannya menjadi Jenderal Besar. Contoh lain yang mengenyam pendidikan Kweekschool Bandung adalah Muhammad Natsir. Orangnya sangat disiplin dan pintar luar biasa.

 

Setelah Indonesia merdeka, tidak ada lagi model pendidikan guru berasrama seperti itu. “Meskipun demikian, kualitas intelektual guru-guru sekarang jauh lebih bagus. Tetapi kedisiplinannya lembek, kalah oleh guru jaman dulu. Padahal kedisiplinan merupakan kunci dari kesuksesan,” tegas Hisyam.

 

Apakah perlu pendidikan keguruan sekarang ini juga berasrama? Sunaryo Kartadinata mengatakan, sebenarnya UU Nomor 14 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan pendidikan guru berasrama, sehingga akan memberi warna tersendiri kepada karakter, watak, dan pribadi seorang guru. “Namun, akan kesulitan mengasramakan calon guru di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena jumlahnya sangat besar. Terus terang saja, kita atau bahkan pemerintah juga mungkin belum mampu melakukannya. Tetapi, itu akan sangat bagus kalau dapat dilakukan. Yang terpenting, jika kita ingin membangun pendidikan guru secara berasrama, tentu juga harus didukung oleh program yang memungkinkan asrama itu menjadi sebuah lingkungan pendidikan guru. Jadi, tidak hanya sebagai tempat tinggal tetapi sebagai lembaga mendidik guru,” ujar Rektor Univeritas Pendidikan Indonesia (UPI).

 

Meskipun profesi begitu mulia dan strategis, tetapi tidak mampu meningkatkan status sosial seorang guru di dalam masyarakat. Hal itu menurut Hisyam karena penghasilan yang diterima guru masih kecil. Itu merupakan warisan kolonial yang hingga kini masih lestari. “Akhir abad 19, Mantri Guru Senior gajinya hanya 50-75 gulden. Sementara seorang jaksa gajinya mencapai 150 gulden,” ungkap Hisyam. Karena gajinya kecil, maka guru tidak diminati oleh kalangan priyai. Mereka lebih suka sekolah di OSVIA, lulusannya jadi wedona atau.STOVIA, lulusannya jadi dokter, daripada ke Kweekschool. Seorang wedona dan dokter memiliki gengsi dan status sosial yang tinggi di masyarakat. Sedangkan guru, gajinya kecil gengsinya rendah. “Jadi, peningkatan kesejahteraan guru akan berdampak terhadap kepecayaan diri dan menaikan status sosial di masyarakat,” Hisyam menyarankan.

 

Namun, trend sekarang ini justru animo masyarakat menempuh pendidikan guru sangat tinggi. Sunaryo menggambarkan, pada tahun 2005, peserta yang melamar ke UPI lewat jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) sekitar 500-1000 orang. Tahun 2006 menjadi 5.000, tahun 2007 bertambah menjadi 8.000, dan tahun 2008 kurang lebih 10.000 pelamar.

 

“Melihat fakta ini berarti apresiasi, aspirasi, dan keinginan untuk menjadi seorang guru sudah mulai membaik. Ini harus ditangkap oleh pemerintah sebagai sebuah peluang untuk memperbaiki mutu guru. Saya berkeyakinan, dengan keketatan yang tinggi, kemampuan intelektual calon-calon mahasiswa akan lebih baik,” kata Sunaryo.

 

Mengenai masalah kesejahteraan, Sunaryo menjelaskan, peningkatan kesejahteraan guru harus diimbangi dengan mutu guru. Kesejahteraan mestinya tidak hanya diterjemahkan kedalam gaji. Tetapi juga fasilitas pendukung untuk guru agar bisa bekerja secara bermutu. “Terus terang saja, pada saat ini fasilitas kerja guru kita amat rendah,” ujarnya prihatin.

 

Pembangunan bangsa kedepan diperlukan manusia-manusia bermutu. Guru merupakan tenaga pencetaknya. Agar guru dapat bekerja dengan baik, maka kesejahteraan dan fasilitas pendukung mengajarnya harus diperhatikan. Pada saat semuanya terpenuhi, tentu guru harus siap dengan program-program yang bisa meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan akan lebih baik dan bermutu.

Publikasi Majalah FIGUR Edisi XXV/Mei 2008

Jepang sekarang mungkin merupakan negara maju yang progresif. Jepang tak lagi menjadi kekuatan yang menakutkan setelah dihajar oleh dua bom atom Amerika dan genknya tahun 1945 di Hiroshima dan Nagasaki. Kekuatan Jepang benar-benar lumpuh, juga nyalinya untuk bersaing dengan negara besar seperti Amerika dan Uni Eropa. Jepang sudah ‘’membeo’’ pada Amerika dan sekutunya begitu takluk tanpa syarat pada perang dunia II.


Padahal sebelumnya, Jepang adalah kekuatan yang sangat menakutkan. Ambisi Jepang menaklukkan Asia dengan menjadikan Asia Raya merupakan pangkal segala musibah kemanusiaan yang terjadi. Di Indonesia, kekejaman Jepang tampak pada kerja paksanya romusa. Kendati hanya 3,5 tahun menduduki Indonesia, Jepang menyisakan kepedihan yang luar biasa. Romusa terbukti menjadi salah satu tragedi kemanusiaan yang luar biasa bagi negeri ini.


Hanya saja, sejarah Jepang di Indonesia dengan romusanya tidak banyak terungkap. Bahkan publik dan para pelajar Jepang sendiri tidak banyak tahu tentang masa kelam bangsanya di negeri lain. Tak hanya itu, sejarah romusa sendiri di tanah air banyak yang terlupakan. Romusa menjadi sekadar cerita singkat yang kadang dianggap biasa dilakukan koloninal.Salah satu sejarah kelam romusa di tanah air terjadi di Muara Cibadur, Pantai Bayah, Banten. Bayah saat pendudukan Jepang itu dikenal sebagai penghasil batu bara, dan Negeri Matahari Terbit itu sangat antusias mengambil tambang batu bara untuk membiayai negara-terutama perangnya dengan sekutu yang dikomandoi AS.


Penambangan batu bara dan kerja paksa di daerah ini memanfaatkan tenaga kerja dari Jawa Tengah seperti Purwodadi, Purworejo, Kutoarjo, Solo, Semarang, Yogyakarta dan lainnya. Selain penambangan, romusa juga dipaksa kerja membuat rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut bara. Sekitar 93 ribu romusa menjadi korban dalam berbagai kerja paksa ini.


Kekejaman Jepang dengan sistem romusa tidak banyak yang terungkap secara detil. Bahkan penduduk Bayah sekarang, banyak yang tak mengetahui tentang sejarah romusa di daerahnya. Kebanyakan para tenaga romusa yang masih hidup memang tak lagi berada di sana. Romusa yang tersisa mungkin tak lama lagi pun akan hilang karena termakan usia. Jika itu terjadi suatu hari nanti, maka akan banyak fakta sejarah tentang romusa yang menghilang begitu saja.

 

Buku Romusa, Sejarah yang Terlupakan ini merupakan salah satu buku yang mengungkap sejarah kelam bangsa ini. Selain jugun ianfu, romusa adalah perlakuan kejam Jepang pada rakyat Indonesia yang tak pantas dilupakan begitu saja. Romusa telah mengusik rasa kemanusiaan terdalam bangsa ini. Romusa menjadikan bangsa ini begitu terhina. Namun demikian, tetap saja banyak fakta tentang romusa yang tak terungkap.

 

Buku ini tak hanya mengungkap romusa, namun juga sejarah Jepang di Indonesia, sejarah perang dunia II, dan betapa dahsyatnya eksploitasi rakyat demi kekuasaan. Sampai kini, sejarah romusa, terutama yang lebih spesifik di buku ini di pertambangan batu bara Bayah, Banten Selatan seolah terlupakan. Tidak ada monumen, kenangan, atau pertanda bahwa di daerah ini ada kejahatan kemanusiaan yang dahsyat. Padahal, Bung Karno berulangkali menyebutkan, ‘’jangan sekali-kali melupakan sejarah,’’ dengan akronim ‘’Jasmerah’’.

 

Buku ini memaparkan fenomena romusa di Indonesia dengan cukup baik. Paparannya jelas dan cukup konkret. Buku ini memaparkan penderitaan masyarakat akibat romusa dengan cukup detil walaupun hanya singkat saja. Namun setidaknya itu sudah menggambarkan jejak kekejaman Jepang di negeri ini.***

 

Rahmadi Hidayat
Alumnus UIN Suska Riau

Sumber: xpresi-riaupos-blogspot.com 3 Mei 2008

 

 

Innalillah wa innaillaihi rajiun

 

Saya terlambat mendengar berita duka cita ini. Bapak Rachmat Widodo Adi, Ph.D, Fisikawan Indonesia telah berpulang ke Rahmatullah pada 13 April 2008. Saya menyimpan kenangan sebelum kepergiannya.

 

Pada tanggal 3 April 2008, saya kirim SMS ke beliau isinya tentang permohonan wawancara dengan tema Siapa Bilang Siswa Indonesia Tak Berprestasi? Tidak lama, dia balas SMS-nya, dan menyatakan kesediaanya diwawancara pada pukul 15:00 di Universitas Indonesia.

 

Namun, saya mengusulkan kepada Pemimpin Redaksi agar beliau menulis artikel saja, sehingga pemikirannya utuh. Pemimpin Redaksi pun menyetujuinya. Segera saya kirim SMS, bahwa Redaksi FIGUR menawarkan agar beliau menulis artikel.

 

Kira-kira pukul 14:30, beliau menelpon saya, dia menanyakan rencana wawancaranya. “Bisa tidak hari ini?” katanya. Namun, tiba-tiba handpone-nya terputus. Kemudian giliran saya yang menelepon dia. Saya pun menjelaskan bahwa, Redaksi mengharapkan agar menulis artikel. Akhirnya, dia pun bersedia.

 

Pada hari senin 7 April 2008, saya memeriksa email yang masuk ke redaksi FIGUR, ternyata artikel yang dijanjikan telah selesai. Padahal waktu itu deadline tanggal 15 April 2008.  

 

Saya download artikel tersebut, kemudian saya baca (saya tersentuh dan terenyuh), tulisannya simple, penggunaan kata-katanya sederhana, dan redaksionalnya runtut. Artikel itu menceritakan pengalamannya dalam membina putra-putra bangsa yang akan berkompetisi dalam ajang Olimpiade Fisika. Dia pun mengungkapkan kebanggaannya ketika mendapati jerih payahnya menghasilakan fisikawan-fisikawan yang andal dan diperhitungkan. Sebelum artikel tersebut di lay out, sentuhan terakhir dilakukan oleh Redaktur Pelaksana.

 

Pada tanggal 28 April 2008, karena majalah FIGUR sebentar lagi akan terbit, rekan kerja saya menanyakan alamat beliau. Saya bilang, beliau itu beraktivitas sebagai dosen di UI, jadi masuk aja ke site UI. Dia pun nurut, dan browsing dengan menuliskan nama Rachmat Widodo Adi dalam mesin pencari Google. Ketika di entar, dia setengah berteriak memberi tahu, bahwa Pak Widodo telah meninggal. Saya terperanjat, kaget, dan tidak percaya─harus percaya dri, sebab hidup dan mati ada di tangan-Nya. Benar, Pak Rachmat Widodo Adi Ph.D, telah tiada. Semoga segala kesalahannya di ampuni dan amal baiknya di terima di sisi-Nya. Amin!

 

Saya pun berpikir, boleh jadi atau mungkin saja artikel yang ditulisnya untuk majalah FIGUR adalah tulisannya yang terakhir. Sungguh kebanggaan bagi segenap Majalah FIGUR, karena telah memuat karyanya. Tulisannya tersebut akan terbit pada Majalah FIGUR Edisi XXV/Mei 2008 temanya tentang “Potret Pendidikan di Indonesia”. Minggu pertama bulan Mei sudah beredar di agen majalah dan toko buku Gramedia.

Waktu

Take your time. Think a lot. Think of everything you’ve got. For your will still be here tomorrow, but your dreams may not.”

 

Lagu Cat Stevens (Yusuf Islam), “Footsteps in the Dark/Greatest Hits Vol 2”

 

Penggalan syair lagu diatas bermakna, “Marilah kita meluangkan waktu untuk sejenak memikirkan tentang apa saja yang telah kita peroleh. Kita mungkin masih di sini esok, tetapi impian kita tidak”

***

Menjelang berakhirnya tahun tidak sedikit orang yang mengambil waktu untuk berefleksi. Pada satu sisi, ia membuat neraca tentang tahun yang akan berlalu. Pada sisi lain, ia diliputi rasa ingin tahu tentang apa yang akan terjadi pada tahun yang akan datang. Satu hal yang biasa dilakukan adalah membuat tekad (resolusi), di mana sering kali merupakan ulangan dari tekad tahun kemarin yang belum kunjung tercapai.

 

Tak sedikit pula orang yang mengapresiasi berakhirnya tahun dengan cool, garing dan biasa-biasa saja, tanpa ada yang istimewa. Bagi mereka melepas tahun dan menyambutnya kembali adalah hal yang tidak perlu dibesar-besarkan. Singkatnya, pergantian tahun sama dengan pergantian almanak (kalender), tidak lebih dari itu.

 

Namun, juga tidak sedikit (bahkan mayoritas) diantara kita yang menyambut dan melepas mahluk bernama “tahun” dengan perasaan suka cita, hura-hura dan canda tawa. Bagi mereka menyambut tahun baru “wajib” dirayakan semisal perayaan upacara yang sakral. Entah sejak kapan sejarah menyambut tahun baru ini dengan luapan kegembiraan. Ketika pukul 00:00 lewat beberapa menit saja, bumi yang berusia 4,5 miliar tahun ini sontak membahana. Suara bising terompet, klakson kendaraan roda dua atau empat dan kembang api berbaur memenuhi udara. Bisa dikatakan ini semua adalah sesajen menyambut tahun baru. Pada suasana seperti itu, dapat dipastikan mereka semua tenggelam dalam kegembiraan, tanpa terpikirkan manfaat dan mudharat apa yang mereka dapatkan dari perayaan.

 

Tahun adalah bagian dari waktu. Menurut teori Fisika, satu tahun didefinisikan sebagai jumlah waktu yang diperlukan oleh bumi untuk melakukan satu putaran lengkap mengelilingi matahari. Sedangkan satu hari didefinisikan sebagai jumlah waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk melakukan suatu putaran lengkap pada sumbunya. Tahun dan bulan kemudian dirinci menjadi unit-unit lain, seperti hari, jam, menit dan detik.

 

Satu hal yang harus dievaluasi ketika kita melepas dan menyambut tahun baru, yaitu bagaimana kita memaknai waktu. Agama Islam mengajari, kita harus sensitif terhadap waktu. Karena waktu akan menghakimi orang yang mengisinya, yaitu kita. Hal itu disiratkan dalam firman Allah Swt surat Al Ashr: “demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian…” ini mengabarkan kepada kita bahwa nasib seseorang dapat dilihat dari sikapnya terhadap waktu. Oleh karena itu, seseorang yang bermutu akan tampak dari bagaimana dia menyikapi waktu.

 

Waktu tidak akan pernah kembali. Meski pepatah mengatakan “sejarah mungkin berulang”, mungkin sejarahnya yang berulang, tetapi waktunya tidak. Setiap orang yang mendiami bumi ini diberi jatah waktu yang sama: 24 jam sehari. Ada yang dalam 24 jam bias mengurus bangsa, mengurus perusahaan, tetapi ada yang mengurus dirinya saja tidak sanggup. Saya dan presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktunya sama: 24 jam sehari, tetapi yang dilakukan dan dihasilkan jelas berbeda. Saya masih di sini-sini saja menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi pak SBY telah melanglang buana, mengunjungi berbagai Negara. Bintang kelas dengan yang tidak naik kelas waktunya sama: 24 jam sehari.

 

Kata Aa Gym dalam tausiyahnya, bahwa bila waktu digunakan sia-sia maka kita akan menjadi manusia sia-sia. Sebaliknya bila waktu digunakan untuk yang berharga, kita menjadi berharga. Intinya, berharga tidaknya hidup kita sangat tergantung pada bagaimana kita menyikapi waktu.

Banyak orang─termasuk saya─yang mengabaikan waktu satu detik, padahal banyak hal yang terjadi dalam satu detik. 8 juta sela mengalami kematian dalam tubuh kita. 8 juta sel baru diciptakan untuk menggantikan sel-sel mati tersebut. Masing-masing sel membuat sekitar 2.000 protein. Lebih dari 2,5 juta sel darah merah dihasilkan didalam tubuh kita. Jantung kita memompa 83 cc darah. Darah didalam pembuluh nadi dialirkan sejauh 33 cm. 5.000 sel syaraf terbentuk pada sebuah janin didalam rahim ibu. 10.000 sinyal dihantarkan dari sebuah sel syaraf. 4 bayi di lahirkan di dunia. 2 manusia meninggal dunia. Setiap partikel foton yang dipancarkan matahari menempuh jarak sejauh 300.000 km di ruang angkasa. 16 juta ton air menguap dan naik ke langit. 16 juta ton air hujan jatuh ke bumi. Cahaya yang berasal dari bulan sampai pada mata kita. 100 kilat menyambar di bumi. 4,5 mobil dibuat di dunia. 2.000 meter persegi hutan yang lenyap. Bumi yang kita diami ini melesat sejauh 30 Km dalam revolusinya mengeliling matahari. Sungguh banyak hal yang terjadi dalam satu detik tanpa kita sadari.

 

Apa yang dapat kita petik dari fakta ini? Ternyata tak sedetik pun waktu yang kita miliki ini sia-sia. Sebab banyak orang yang mengecap manisnya kesuksesan karena mereka begitu menghargai detik demi detik waktu yang dilewati. Sebaliknya orang yang kurang punya kesadaran tentang waktu tentu saja tidak menganggap penting arti waktu satu detik. Sehingga kesuksesan pun nun jauh di seberang sana. Pada sisi lain, ada yang mengatakan, untuk apa pabrikan Swiss membuat jam tangan yang hanya meleset satu detik dalam 250 tahun. Mengapa harus secanggih itu? Apa pedulinya dengan waktu sepresisi itu?

 

Firman Allah Swt.

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan semua (tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”QS. Yunus 10:61.