Hendri F. Isnaeni, Lahir di Desa Kerta Kecamatan Banjarsari Kabupaten Lebak, 6 Juni 1986. Menempuh pendidikan sembilan tahun di SD Negeri Kerta II, SMP Negeri II Banjarsari, dan SMA Negeri I Malingping. Menggeluti dunia tulis-menulis sejak duduk di SMA Negeri 1 Malingping. Tahun 2003, bersama tim terpilih menjadi peneliti terbaik bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam Semiloka Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Banten bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), lewat karya ilmiah, “Pengaruh Perbedaan Ekosistem Terhadap Penyebaran Biota Laut di Pantai Carita”.
Tahun 2004, keluar sebagai pemenang kedua bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) XXXVI tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lewat karya ilmiah, “Rekonstruksi Sejarah Romusha di Banten Selatan (1942-1945)”. Keberhasilan itu membuat penulis mendapatkan kehormatan menghadiri acara Peringatan Hari Cinta Puspa Dan Satwa Nasional (HCPSN) tahun 2004 di Istana Negara yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun yang sama, terpilih menjadi finalis Lomba Karya Tulis Budaya Padi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Padi Indonesia (YAPADI), lewat karya tulis, “Padi: Antara Mitos dan Realitas, kajian pola pertanian masyarakat Baduy.”
Lulus SMA─nganggur tujuh bulan─langsung bekerja sebagai education consultant di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Cikokol Tangerang, bertahan delapan bulan lebih (1 Januari 2006-10 September 2006). 11 September 2006, ketika dunia berduka memperingati tiga tahun tragedi terorisme yang konon membajak sebuah pesawat yang dihujamkan ke gedung World Trade Center Amerika Serikat, saya justru “dibajak” oleh seorang Staf Ahli LP3I Pusat, ke Majalah FIGUR. Dia bilang, “potensi kamu adalah menulis, bergabunglah dengan tim Majalah FIGUR.”─potensi (kemampuan) membuat kita dicari, bukan mencari.
Ketika diajukan ke Pemimpin Umum (PU) Majalah FIGUR, saya sudah menduga komentarnya, “Masa anak baru lulus SMA mau dijadikan wartawan?” Waktu itu memang, status saya baru lulus SMA (tahun 2004), usia baru menginjak 20 tahun jalan, dan yang jelas belum berpengalaman. Namun, yang membawaku berkata, “jangan lihat pendidikannya apa, tetapi lihat kemampuannya,” katanya sambil memberikan tulisan saya berjudul “Padi: Antara Mitos dan Realitas, kajian pola pertanian masyarakat Baduy.” Akhirnya, PU pun memberikan kesempatan kepada saya untuk mencobanya, dengan syarat harus lolos tes menulis. Di FIGUR edisi VI/Oktober 2006 dengan tema “Konvensi Partai Golkar”, saya diberikan dua halaman untuk tema tulisan “Mereka Yang Bertarung Di Konvensi 2004”. Alhamdulillah, hasilnya, saya pun diterima sebagai wartawan Majalah FIGUR, Menilai Karena Ketauladanan, sebuah majalah tokoh dan analisis kebijakan, dan hingga sekarang masih bertahan.
Menulis, selain sebagai hobi juga profesi. Tulisan-tulisan saya selain hadir setiap bulannya di Majalah FIGUR (visit my site ujungpena.wordpress. com), juga di beberapa media lain, seperti Indonesia Negara Terkorup di Dunia (detik.com, 28/9/2007), Tidak Hanya Mahkamah Agung (detik.com, 29/9/2007), Jazuli-Airin: Kyai, Jawara, dan Politik (Radar Banten, 23/10/2007), Degradasi Peran dan Fungsi Pemuda (Radar Banten, 29/12/07), (Tokoh) Agama dan HIV/AIDS (Radar Banten, 4/12/2007)., Prof. Sartono Kartodirdjo dan Pemberontakan Petani Banten 1888 (Radar Banten, 11/12/2007).
Buku Romusa: Sejarah yang Terlupakan (Ombak, Maret 2008), merupakan karya perdana. Karena manusia harus terus berencana, maka dalam waktu dekat Insya Allah saya akan merampungkan buku kedua berjudul SANG KOLABORATOR, Kerjasama Untuk Merdeka. Buku ini membahas tentang kolaborasi Sukarno dengan Jepang pada masa pendudukan Jepang di Indonesia 1942-1945.
Diskusi akan membuka wawasan dan pencerahan. Ingin berkomunikasi, dengan senang hati saya tunggu di e-mail: henfi_86@yahoo.co.id.